Dracin Seru: Pedang Yang Bergetar Saat Menyentuh Dosa Lama
Pedang yang Bergetar Saat Menyentuh Dosa Lama
Lantai marmer Istana Anggrek terasa dingin di bawah kakiku yang telanjang. Di luar, hujan musim semi menari-nari, membasahi kelopak bunga sakura yang berguguran. Indahnya. Sama indahnya dengan senyum palsu yang dulu sering kulihat di bibirnya. Senyum yang menutupi pengkhianatan, senyum yang kini terasa seperti duri yang mencabik-cabik hatiku.
Namanya Lin Wei, dan dulu, dia adalah segalanya bagiku. Cahaya matahariku, pelipur laraku, CINTAKU SATU-SATUNYA. Kami tumbuh bersama, berbagi mimpi di bawah langit yang sama, mengukir janji di atas batu-batu sungai. Janji yang manis seperti madu, tapi kini terasa seperti belati berkarat yang tertancap dalam.
Dulu, pelukannya terasa hangat, melindungi. Kini, aku sadar, pelukan itu beracun. Racun yang perlahan melumpuhkan, membutakan, sampai aku tak lagi bisa melihat kebenaran yang terbentang di depan mata. Kebenaran bahwa dia mencintai wanita lain, seorang selir rendahan dengan lidah seulas sutra dan hati sekeras baja.
Aku, Putri Miao Ying, pewaris takhta Dinasti Giok, dikhianati.
Tapi aku tidak menangis. Aku tidak menjerit. Aku tidak memohon. Aku hanya diam. Menyerap setiap rasa sakit, menguncinya di balik topeng ketenangan. Seorang putri tidak boleh terlihat lemah. Seorang putri harus menjaga martabatnya, bahkan di saat hatinya hancur berkeping-keping.
Malam itu, aku memanggil Lin Wei ke taman rahasia. Bulan purnama bersinar terang, menerangi wajahnya yang pucat. Di tanganku tergenggam pedang pusaka keluarga, Pedang Naga Perak. Pedang yang bergetar halus saat menyentuh kebohongan, saat mendeteksi dosa lama.
"Lin Wei," suaraku tenang, nyaris berbisik. "Apakah kau mencintai selir Lan?"
Wajahnya memucat. Dia mencoba menyangkal, tapi Pedang Naga Perak di tanganku semakin bergetar keras. Kebohongan itu terasa seperti sengatan listrik di udara.
Aku tidak menyuruh pengawal menangkapnya. Aku tidak mencambuknya di depan umum. Aku hanya menatapnya, dalam diam. Membiarkan Pedang Naga Perak bekerja. Pedang itu tidak akan menumpahkan darah. Tapi akan membukakan semua dosa masa lalunya, membongkar semua kebohongan yang selama ini dia sembunyikan.
Beberapa hari kemudian, Kaisar murka. Selir Lan diusir dari istana. Lin Wei kehilangan semua gelar dan kehormatan. Dia dikirim ke perbatasan utara, tempat terdingin dan terpencil di seluruh kekaisaran. Sebuah hukuman yang JAUH LEBIH MENYAKITKAN daripada kematian.
Aku tahu, dia tidak akan pernah melupakan malam itu. Malam di mana kebohongan terbesarnya terungkap, malam di mana cintaku berubah menjadi PENYESALAN ABADI.
Aku duduk di balkon istana, menyaksikan hujan musim semi semakin deras. Air mata akhirnya mengalir, tapi bukan karena kesedihan. Melainkan karena kelegaan.
Balas dendam ini terasa manis. Tapi juga pahit. Sangat pahit.
Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama… dan terkadang, kita tidak bisa membedakannya.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Bertemu