Drama Baru! Pedang Yang Menangis Di Balik Tirai
Di balik tirai sutra REMEMBER lavender, di sebuah paviliun yang seolah terapung di atas danau kabut, hiduplah seorang wanita bernama Lian Hua. Kecantikannya adalah ILUSI, sebuah lukisan kabur yang dilukis oleh bulan purnama di atas air yang beriak. Setiap helai rambutnya seperti benang perak yang terurai dari mimpi, matanya dua kolam yang menampung kesedihan abadi.
Ia menunggu. Menunggu seorang pria yang hanya hadir dalam goresan tinta seorang pelukis gila – seorang pendekar pedang bernama Bai Long, yang pedangnya, konon, menangis setiap kali menebas kejahatan. Pedangnya adalah perpanjangan hatinya, dan hatinya terikat pada Lian Hua melalui untaian tak terlihat, benang takdir yang dipintal di dimensi waktu yang terlupakan.
Lian Hua menghabiskan hari-harinya menyalin puisi-puisi kuno di atas kertas beras tipis. Kata-kata itu adalah jembatan, menghubungkannya dengan Bai Long. Setiap baris adalah langkah, setiap sajak adalah bisikan, setiap bait adalah janji tersembunyi. Ia percaya, di suatu tempat di balik realitas yang buram ini, Bai Long merasakan denyut jantungnya, mendengar nyanyian jiwanya.
Suatu malam, saat angin musim gugur menari di antara bambu, sebuah bayangan jatuh di ambang pintu paviliun. Bukan Bai Long, tetapi seorang pria tua renta dengan jubah usang. Di tangannya, ia menggenggam sebuah gulungan yang tampak lebih tua dari waktu itu sendiri.
"Lian Hua," suara pria itu serak seperti daun-daun kering yang bergesekan. "Aku membawa ini untukmu. Ini adalah kisah tentang Bai Long, ditulis oleh tangannya sendiri… atau lebih tepatnya, oleh tangannya yang terampas."
Gulungan itu menceritakan sebuah kisah TRAGEDI. Bai Long bukan hanya seorang pendekar, tetapi juga seorang pangeran yang dikhianati. Pedangnya, Bukan menangis karena menebas kejahatan, tetapi karena menanggung beban pengkhianatan – oleh saudaranya sendiri, yang mencuri takhta dan hatinya, Lian Hua. Bai Long, yang ditawan dan disiksa, menuliskan kisahnya dengan darahnya sendiri sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan. Lian Hua yang tercinta, ternyata adalah istri dari sang pengkhianat.
Di akhir gulungan, tertera satu kalimat: "Aku akan menemukanmu, di mana pun dimensi membawaku. Tunggu aku, Lian Hua."
Lian Hua terhuyung mundur. Lukisan kabur itu menjadi JELAS tiba-tiba, membakar matanya. Ia melihat kilasan masa lalu: pesta dansa megah, tatapan penuh cinta, dan kemudian… pengkhianatan, darah, dan kesedihan yang tak terperikan. Ia bukan sekadar menunggu, ia adalah bagian dari tragedi itu sendiri. Keindahan cinta yang dimimpikannya ternyata adalah pedang yang menikam hatinya.
Pria tua itu tersenyum pahit. "Kebenaran memang menyakitkan, bukan begitu?" Ia menunjuk ke lukisan Bai Long di dinding. "Lukisan itu bukan hanya lukisan. Itu adalah Portal. Dan sekarang… saatnya kau memutuskan."
Lian Hua menatap lukisan itu, air mata membasahi pipinya. Di balik lukisan itu, ia melihat sekilas... APA? Sebuah padang pasir yang luas, di bawah langit merah menyala? Atau hanya pantulan kesedihannya yang tak berujung?
Dan kemudian, ia mendengar bisikan lembut, selembut hembusan angin:
"Apakah kau berani mengikuti jejak luka ini?"
You Might Also Like: 62 Beast Film Fact Versus Fiction