Endingnya Gini! Ia Tersenyum Saat Aku Menangis, Karena Itu Janji Kami Dulu
Hujan mengetuk jendela apartemenku, irama monoton yang mencerminkan detak jantungku yang tersendat. Setiap tetesnya membawa aroma kenangan, aroma kopi Vietnam Drip yang selalu ia buatkan untukku di pagi hari yang kelabu. Pagi yang kini hanya tinggal sisa chat yang tak terkirim, teronggok di antara notifikasi yang membombardir layar ponselku.
Dulu, kami bertemu di dunia maya. Tepatnya, di kolom komentar sebuah video cover lagu yang viral. Ia mengomentari interpretasiku yang menurutnya "mendalam dan menyayat hati". Aku membalas, dan obrolan demi obrolan mengalir bagai sungai yang tak pernah kering. Kami bertukar mimpi, ketakutan, dan resep kopi.
Ia, seorang game designer yang bermimpi menciptakan open-world game dengan cerita yang menyentuh jiwa. Aku, seorang penulis lepas yang mencoba mengabadikan keindahan dalam kata-kata, meski sering kali gagal. Kami adalah dua jiwa yang tersesat, menemukan kompas di dalam diri satu sama lain.
Aku ingat janjinya, terucap di bawah gemerlap lampu kota yang basah: "Jika kamu menangis, aku akan tersenyum. Bukan karena aku bahagia melihatmu sedih, tapi karena aku tahu kamu akan kuat. Karena itu janji kita dulu."
Lalu, ia menghilang. Tanpa jejak. Akun media sosialnya lenyap. Nomor ponselnya tak aktif. Semuanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Aku mencoba mencari, bertanya, menggali informasi. Tapi, semua usahaku sia-sia. Ia seperti ditelan bumi.
Kehilangan ini terasa aneh. Bukan hanya kehilangan orang yang dicintai, tapi kehilangan bagian dari diriku sendiri. Ada misteri yang menyelubungi kepergiannya, misteri yang membuatku terjaga di malam hari, menatap langit-langit kamar sambil memutar ulang percakapan kami di LOOP.
Suatu malam, aku menerima sebuah paket tanpa nama. Di dalamnya, sebuah flash drive. Ketika aku mencolokkannya ke laptop, sebuah folder dengan nama "Project : Aetheria" menyambutku. Itu adalah prototipe game open-world yang ia impikan. Grafisnya masih kasar, tapi ceritanya…ceritanya begitu MENYENTUH!
Di akhir game, karakter utama menemukan sebuah surat yang ditulis oleh karakter yang menghilang. Isi surat itu menceritakan tentang penyakit langka yang dideritanya. Penyakit yang akan merenggut nyawanya dalam waktu dekat. Ia memilih pergi, agar aku tidak melihatnya menderita. Ia ingin aku mengingatnya sebagai sosok yang kuat dan penuh harapan.
Air mata membasahi pipiku. Jadi, ini alasannya. Ini rahasia yang ia sembunyikan dariku. JANJI! itu kini terasa seperti belati yang menusuk hatiku. Ia tersenyum saat aku menangis, karena itu janji kami dulu. Sebuah janji yang dibuat dalam keputusasaan.
Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, aku melanjutkan game. Di akhir cerita, aku, sebagai karakter utama, mengirimkan sebuah pesan kepada karakter yang menghilang: "Aku tahu. Aku mengerti. Terima kasih."
Kemudian, aku menutup laptop. Aku bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela. Hujan sudah reda. Mentari pagi mulai menyinari kota. Aku tersenyum.
Balas dendamku sederhana. Aku akan meneruskan mimpinya. Aku akan menyelesaikan game ini. Aku akan memastikan bahwa dunia akan tahu tentang cerita indah ini.
Aku akan melakukannya, bukan untuknya, tapi untuk diriku sendiri.
Karena itu… cukup.
Aku menarik napas dalam, aroma kopi Vietnam Drip masih tercium samar.
... Ia tahu, aku tidak akan pernah melupakannya.
You Might Also Like: