Drama Seru: Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban
Mahkota Itu Dicuri Saat Upacara, Dan Semua Orang Menyebutnya Keajaiban
Embun pagi membasahi atap Istana Jade. Sunyi. Hening. Namun di balik keheningan itu, jantung Lianhua berdebar kencang, senada dengan gemuruh di dadanya. Hari ini, hari penobatannya sebagai Huanghou Permaisuri Kekaisaran. Namun, ada rahasia kelam yang ia simpan rapat, seperti duri mawar yang tersembunyi di balik keindahannya. Lianhua bukan putri kandung Kaisar. Ia hanyalah anak pelayan rendahan yang diangkat derajatnya oleh Kaisar yang berduka atas kehilangan putrinya.
"Lianhua, bersiaplah. Waktumu telah tiba," bisik pelayannya, Meiying, dengan nada khawatir. Meiying adalah satu-satunya yang tahu kebenarannya.
Sementara itu, di balik bayangan pilar istana, berdiri Wei Jinyi, Jenderal Kekaisaran yang setia. Matanya yang tajam mengamati setiap gerak-gerik Lianhua. Jinyi tidak percaya pada cerita keajaiban yang disebarkan Kaisar. Ia tahu, ada kebohongan besar yang disembunyikan. Ia bersumpah akan mengungkap kebenaran, meskipun harus mengorbankan segalanya.
Upacara penobatan dimulai. Sorak sorai menggema di seluruh istana. Lianhua melangkah dengan anggun, mengenakan jubah keemasan yang berat. Mahkota Phoenix, simbol kekuasaan Permaisuri, diangkat tinggi-tinggi. Namun, saat mahkota hendak diletakkan di kepalanya, sebuah panah melesat cepat, memotong tali pengikat mahkota. Mahkota itu jatuh... dan menghilang!
Keheningan mencekam. Kekacauan terjadi. Kaisar murka. Semua orang panik mencari mahkota yang hilang. Namun, bagi Jinyi, ini adalah kesempatan. Ia tahu, pencurian mahkota bukanlah sekadar tindakan kriminal biasa. Ini adalah pesan. Sebuah petunjuk.
"Keajaiban!" teriak salah seorang kasim. "Mahkota itu menghilang dalam sekejap! Pasti ini kehendak langit!"
Semua orang mulai mempercayai keajaiban. Kecuali Jinyi. Ia melanjutkan penyelidikannya dengan diam-diam. Ia menggali masa lalu Lianhua, menanyai para pelayan, mencari jejak sekecil apapun. Semakin ia menggali, semakin mengerikan kebenaran yang terungkap. Lianhua bukan hanya bukan putri kandung Kaisar, tetapi ia juga terlibat dalam konspirasi untuk menyingkirkan putri yang sebenarnya.
Konflik memuncak saat Jinyi mengumpulkan bukti-bukti tak terbantahkan. Ia menghadapkan Lianhua di hadapan Kaisar. Lianhua menyangkal semuanya, air mata palsu membasahi pipinya. Namun, kebohongan memiliki batas. Jinyi membuka aibnya di hadapan seluruh istana.
Kaisar terpukul. Ia merasa dikhianati oleh orang yang ia anggap sebagai putrinya sendiri. Murkanya meluap-luap. Lianhua ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Namun, sebelum hukuman dilaksanakan, Jinyi menghampiri Lianhua di sel tahanan.
"Kau kalah," ucap Jinyi dengan dingin.
Lianhua tersenyum sinis. "Aku memang kalah dalam permainan ini. Tapi aku menang dalam perang yang sebenarnya."
Saat hukuman mati dilaksanakan, Lianhua tidak menunjukkan rasa takut. Ia menerima takdirnya dengan tenang. Saat kepalanya terpenggal, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum perpisahan.
Setelah kematian Lianhua, Jinyi menjadi pahlawan. Ia dihormati dan dipuji. Namun, kebenaran yang ia cari telah menghancurkannya. Ia tahu, keadilan telah ditegakkan, tapi hatinya tetap hancur. Ia melihat sisi gelap kekuasaan, pengkhianatan, dan kebohongan yang menyelimuti istana.
Jinyi mengundurkan diri dari jabatannya dan menghilang. Ia memilih hidup menyendiri, menjauhi hingar bingar istana.
Bertahun-tahun kemudian, sebuah surat misterius sampai di tangan Kaisar. Surat itu berisi pengakuan dari Meiying, pelayan setia Lianhua. Meiying mengaku bahwa Lianhua memang bersalah, tapi ia hanya menjalankan perintah dari Seseorang yang lebih tinggi.
Kaisar membacanya, dan matanya membulat penuh kengerian. Siapakah yang memerintah Lianhua?
You Might Also Like: Mimpi Masuk Rumah Tungau Jangan