Absurd tapi Seru: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih
Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih
Hujan abu-abu menari di jendela kafe, serupa dengan kesedihan yang menari di hatiku. Aroma kopi pahit tak mampu mengalahkan rasa getir yang membelit. Di layar laptop, angka penonton terus bertambah. Aku, Aurora, memulai streaming. Lagu-lagu melankolis mengalun, suara yang sengaja kupoles agar terdengar rapuh, namun tetap anggun.
Lima tahun. Lima tahun aku mencintainya, Kim Min-ho. Lima tahun aku percaya pada senyumnya yang menipu, pelukannya yang kini terasa beracun, dan janji-janjinya yang berubah menjadi belati. Semuanya hancur berkeping-keping saat aku memergokinya dengan Ye-ji, sahabatku sendiri, di apartemen yang kubeli dengan susah payah.
Aku tidak berteriak. Tidak menangis histeris. Aku hanya pergi. Meninggalkan semua kenangan, semua mimpi, semua rasa sakit. Menjauh, dan membangun benteng di sekeliling hatiku.
Aku mengubah diri. Dari Aurora yang polos menjadi Aurora yang dingin dan kalkulatif. Aku belajar mengendalikan emosi, menyembunyikan luka di balik senyum profesional. Aku fokus pada karierku sebagai penyanyi streaming. Dan aku BERHASIL.
Lagu demi lagu kutulis, menceritakan tentang cinta yang dikhianati, tentang mimpi yang dihancurkan, tentang kekuatan untuk bangkit. Setiap lirik adalah amarah yang kutransformasi menjadi melodi. Setiap nada adalah dendam yang kutajamkan menjadi karya seni.
Dan malam ini, aku tahu dia ada di antara penonton. Aku bisa merasakannya. Jantungku berdebar lebih kencang, bukan karena cinta, tapi karena rasa yang jauh lebih gelap.
Lagu selanjutnya kupersembahkan untuknya. Sebuah lagu tentang pengkhianatan. Tentang dua orang yang saling mencintai, namun salah satunya memilih untuk menghancurkan segalanya.
Di tengah lagu, di kolom komentar muncul sebuah nama: KimMinHo. Dan sebuah pesan: "Aurora... maafkan aku."
Aku tersenyum. Senyum yang tidak mencapai mata. "Min-ho," ujarku pelan, hampir berbisik, sembari memetik gitar. "Ini untukmu."
Lagu pun berlanjut. Nada-nada yang awalnya lirih, kini berubah menjadi badai. Aku melihat komentar Min-ho terus berdatangan, memohon, menyesal, menyalahkan diri sendiri. Tapi aku sudah tidak peduli.
Puncaknya adalah ketika aku menyanyikan bagian reff. Dengan segala emosi yang kumiliki, aku menyanyikan lirik yang kutulis khusus untuknya: "Kau menyebut namaku saat lagu sedih mengalun. Tapi sayang, air mata penyesalanmu tidak akan pernah bisa menghapus darah yang kau tumpahkan di hatiku."
Seketika, komentar Min-ho berhenti. Aku tahu, dia mengerti. Balas dendamku bukan darah, bukan air mata. Balas dendamku adalah penyesalan abadi yang akan terus menghantuinya.
Aku mengakhiri streaming dengan senyum tipis. Menutup laptop, dan menatap hujan di luar jendela. Kemenangan ini terasa manis, sekaligus pahit. Aku telah membalas dendam. Tapi aku juga kehilangan sebagian dari diriku.
Dan di keheningan malam, aku menyadari: cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Dengan