Seru Sih Ini! Aku Menjadi Istrinya Dalam Perintah, Tapi Kekasihnya Dalam Dosa
Aku Menjadi Istrinya Dalam Perintah, Tapi Kekasihnya Dalam Dosa
Kabut tipis menggantung di atas Danau Barat, persis seperti kabut kesedihan yang menyesakkan dadaku. Gaun pengantin merah ini terasa seperti kain kafan, bukan simbol kebahagiaan. Dulu, aku membayangkan hari ini dipenuhi tawa dan bunga, bukan air mata yang tersembunyi di balik senyum paksa.
Namanya Li Wei, seorang jenderal yang gagah perkasa, pahlawan kekaisaran. Aku, Lin Mei, hanyalah bidak dalam permainan politik kotor. Aku menikahi Li Wei atas perintah Kaisar, demi menjaga keseimbangan kekuasaan. Dia adalah suami resmiku, terikat janji suci di hadapan dewa dan manusia.
Namun, di balik dinding istana megah ini, di balik tirai sutra yang mahal, bersemi sebuah rahasia. Setiap malam, setelah tugas dan kewajiban dipenuhi, Li Wei akan menyelinap ke kamarku. Bukan sebagai suami, tapi sebagai kekasih. Dia akan membisikkan janji-janji manis tentang cinta abadi, tentang melarikan diri dari kekaisaran yang kejam ini, tentang membangun kehidupan baru bersamaku. Janji. Kata itu kini terasa seperti duri yang menusuk jantungku.
Malam itu, hujan mengguyur kota. Li Wei datang seperti biasa, bayangan gelap di tengah badai. Tapi ada yang berbeda. Matanya merah, penuh penyesalan dan kepedihan.
"Mei'er," bisiknya parau, membelai pipiku. "Aku... aku tidak bisa."
Kalimat itu, sependek apapun, meruntuhkan seluruh duniaku.
"Tidak bisa apa?" tanyaku dengan suara bergetar, meskipun aku sudah tahu jawabannya.
"Aku tidak bisa meninggalkan kekaisaran. Kaisar mengancam akan menyakiti keluargamu jika aku melakukannya. Aku... aku memilih keluargamu, Mei'er. Aku memilih keselamatanmu."
Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah. "Jadi, semua ini bohong? Semua janji itu?"
Li Wei meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Tidak! Aku mencintaimu, Mei'er. AKU MENCINTAIMU! Tapi cintaku tidak cukup kuat untuk melawan takdir."
Aku menarik tanganku dengan kasar. "Cinta? Cinta macam apa yang rela mengorbankan orang yang dicintai?"
Dia menunduk, tak berani menatap mataku. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku mengecewakanmu. Tapi percayalah, aku akan selalu mencintaimu."
"Cukup!" Aku berteriak, dadaku sesak oleh amarah dan sakit hati. "Pergi! Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi!"
Dia pergi, meninggalkan aku sendirian di tengah malam yang dingin. Hujan semakin deras, seolah langit pun ikut menangis bersamaku.
Bertahun-tahun berlalu. Aku tetap menjadi istri Jenderal Li Wei, hidup dalam pernikahan yang hampa. Dia naik pangkat, menjadi orang kepercayaan Kaisar. Aku, sebaliknya, tenggelam dalam kesunyian.
Suatu malam, aku mendengar kabar. Jenderal Li Wei dituduh berkhianat. Kaisar memerintahkan eksekusi mati.
Aku tidak bersukacita. Aku tidak menangis. Aku hanya merasakan kekosongan yang lebih dalam.
Di hari eksekusi, aku berdiri di antara kerumunan orang. Aku melihat Li Wei berlutut di hadapan algojo. Matanya mencari-cari di antara kerumunan. Akhirnya, dia menemukanku. Pandangan kami bertemu. Aku tidak melihat penyesalan, hanya kepasrahan.
Sebelum pedang algojo diayunkan, Li Wei tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, saat dia membisikkan janji-janji palsu di telingaku.
Kemudian, semuanya menjadi gelap.
Beberapa bulan kemudian, Kaisar mendadak jatuh sakit dan meninggal. Putra Mahkota, seorang bocah ingusan yang mudah dikendalikan, naik tahta. Kekaisaran berada di ambang kekacauan.
Akulah yang perlahan tapi pasti menarik tali kendali. Dengan senyum manis dan kata-kata yang lembut, aku menyingkirkan satu per satu orang-orang yang berkuasa. Aku mengumpulkan kekuatan. Aku menciptakan aliansi. Aku memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam kematian Li Wei akan merasakan akibatnya.
Bukan aku yang membalas dendam. Bukan dengan tangan kotor dan amarah membara. Tapi takdir. Takdir yang selalu memiliki cara sendiri untuk menuntut keadilan.
Mungkin aku adalah istrinya dalam perintah, kekasihnya dalam dosa, tapi aku adalah arSiteK kejatuhannya.
Aku mencintainya dulu, tapi sekarang aku bertanya-tanya, apakah cintaku lebih besar dari dendamku yang dingin?
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Supplier